
Studi kasus: target angkut 20 ton/8 jam, BBM 3 liter/jam (unit 5 ton)
Efisiensi pengangkutan TBS (tandan buah segar) bukan cuma soal “seberapa kuat” unit bekerja, tapi berapa ton yang bisa dipindahkan per liter solar, berapa biaya per ton, dan seberapa stabil performanya selama 1 shift kerja. Dengan hitungan sederhana, estate manager dan tim maintenance bisa punya ukuran yang jelas untuk evaluasi dan perbaikan.
1) Tentukan parameter dasar operasional (input hitung)
Untuk contoh ini, kita pakai asumsi lapangan “medan standar” (jalur normal estate, tidak ekstrem):
- Target angkut per shift: 20 ton
- Durasi kerja: 8 jam/shift
- Konsumsi BBM crawler 5 ton: 3 liter/jam
Dari sini kita bisa turunkan metrik efisiensi yang paling kepake untuk kontrol harian.
2) Hitung total konsumsi BBM per shift
Rumus:
Total BBM (liter/shift) = konsumsi per jam × jam kerja
Masukkan angka:
- 3 liter/jam × 8 jam = 24 liter/shift
Jadi, untuk 1 shift 8 jam, estimasi BBM = 24 liter.
3) Hitung efisiensi utama: Ton per Liter (Ton/L)
Ini metrik paling gampang untuk membandingkan performa dari hari ke hari.
Rumus:
Ton per Liter = total ton angkut / total BBM
Masukkan angka:
- 20 ton / 24 liter = 0,83 ton/liter
Artinya: setiap 1 liter solar menghasilkan perpindahan sekitar 0,83 ton TBS.
4) Hitung kebalikannya: Liter per Ton (L/Ton)
Ini lebih enak untuk kontrol biaya, karena langsung menunjukkan “boros atau irit”.
Rumus:
Liter per Ton = total BBM / total ton angkut
Masukkan angka:
- 24 liter / 20 ton = 1,2 liter/ton
Artinya: untuk memindahkan 1 ton TBS, unit mengonsumsi sekitar 1,2 liter solar.
5) Hitung biaya BBM per ton (kalau mau dipakai di laporan)
Kalau kamu masukkan harga solar (misal pakai variabel), hasilnya jadi langsung bisa dibaca purchasing/finance.
Rumus:
Biaya BBM per ton = (liter per ton) × (harga solar per liter)
Contoh (pakai variabel):
- Jika harga solar = Rp X/liter
- Biaya BBM/ton = 1,2 × X = Rp 1,2X per ton
Kalau kamu mau, kamu tinggal isi “X” sesuai harga aktual di kebun.
6) Hitung produktivitas per jam (Ton/Jam)
Ini penting buat melihat “real output” per jam, terutama saat dibandingkan antar blok.
Rumus:
Ton per Jam = total ton / total jam
Masukkan angka:
- 20 ton / 8 jam = 2,5 ton/jam
Artinya: output rata-rata adalah 2,5 ton per jam.
7) Cara membaca hasilnya (interpretasi cepat)
Dengan contoh di atas, baseline efisiensi kamu adalah:
- BBM/shift: 24 liter
- Produktivitas: 2,5 ton/jam
- Efisiensi: 0,83 ton/liter
- Konsumsi per ton: 1,2 liter/ton
Baseline ini berguna untuk:
- Membuat target realistis per blok
- Membandingkan sebelum vs sesudah perbaikan jalan/operasional
- Mengukur dampak training operator (belok, stop-start, dan cara muat)
- Menilai indikasi masalah unit (BBM naik tapi ton tetap)
8) Faktor lapangan yang paling sering bikin efisiensi “bocor”
Kalau ton/liter turun, biasanya sumbernya bukan satu hal. Yang paling sering:
- Jalur rusak / becek berat → slip track, cycle time melambat
- Belok tajam saat muatan → beban track & konsumsi meningkat
- Idle terlalu lama (menunggu muat/overlap antrian) → BBM jalan tapi ton tidak naik
- Muatan tidak konsisten → banyak trip dengan muatan ringan
- Perawatan kurang (track tension, roller, filter, oli) → tenaga turun, BBM naik
9) Template hitung cepat (bisa ditempel di SOP)
Cukup catat 3 angka setiap shift:
- Total ton angkut (ton)
- Jam kerja efektif (jam)
- BBM terpakai (liter) atau konsumsi per jam
Lalu hitung:
- Ton/Liter = Ton ÷ Liter
- Liter/Ton = Liter ÷ Ton
- Ton/Jam = Ton ÷ Jam
Selesai.
Kesimpulan
Menghitung efisiensi crawler dumper itu sederhana, tapi dampaknya besar untuk kontrol biaya dan output panen. Dengan contoh standar:
- 20 ton/8 jam dan konsumsi 3 liter/jam
hasilnya 24 liter/shift dan 0,83 ton/liter (atau 1,2 liter/ton).
Kalau kamu rutin catat angka ini, kamu bisa cepat tahu apakah penurunan efisiensi berasal dari jalur, operator, atau kondisi unit.